Membidik Kata dalam Cerita:
Merasuki Sudut Kehidupan Sang Pemimpi
Andrea Hirata, mengguncang dunia sastra indonesia pada abad ke-20 dengan tetralogi novelnya. Novel-novel yang berisi pengalaman hidup yang inspiratif ini salah satunya berjudul Sang Pemimpi. Dalam novel keduanya, pria asli Belitong ini memaparkan bagaimana kekuatan mimpi dan pengorbanan menjadi cambuk bagi kehidupan untuk tidak pernah menyerah dan pasrah kepada keadaan. Andrea mengupas dunia pendidkan dengan sangat tajam dan indah, ia membuka realitas yang kejam sekaligus manis tentang pendidikan dalam sebuah novel dengan halaman kurang dari 300 lembar ini. Dapat kita lihat bagaimana perjuangan tiga anak miskin dari sudut pedalaman bangsa, berjuang melawan kemiskinan mereka untuk mendapatkan pendidikan yang menjadi barang langka di daerahnya. Dengan berbekal mimpi yang mereka punya, Ikal, Arai dan Jimbron berusaha sekuat tenaga agar dapat bersekolah.
Tiga orang anak dari kampung Melayu yang bernama Ikal, Arai dan Jimbron bermimpi melanjutkan sekolah ke Perancis, menjelajahi Eropa bahkan ke Afrika. Walau bagai pungguk merindukan bulan, mereka tidak peduli, mereka memiliki tekad baja untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Hidup di daerah terpencil, kemiskinan, kepahitan hidup, bukanlah halangan bagi mereka untuk bermimpi. Mereka tidak pernah menyerah pada nasin dan keadaan, bagi mereka mimpi adalah satu-satunya energi yang mereka punya untuk melanjutkan hidup dengan penuh semangat. Dan menggapai apa yang mereka cita-citakan.
Ikal, Arai dan Jimbron memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi, mereka bahu membahu mewujudkan mimpi mereka. Saat itu PN Timah Belitung sedang dalam keadaan terancam kolaps, gelombang PHK besar-besaran membuat banyak anak-anak tidak bisa meneruskan sekolah, karena orang tuanya tidak sanggup untuk membiayai. Kebanyakan anak-anak bekerja membantu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Tapi ketiga pemimpi itu memiliki tekad yang kuat untuk melanjutkan sekolah begitu tamat dari SMP. Dan satu-satunya SMA berada di kampung Magai yang berjarak 30 kilometer dari kampung mereka. Oleh karena itu mereka tinggal bersama-sama dalam sebuah los kontrakan, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka bekerja mulai dari penyelam di padang golf, office boy di kantor pemerintahan hingga akhirnya bekerja sebagai kuli ngambat. Kuli tambat adalah pekerjaan yang paling kasar yang hanya akan digeluti oleh mereka yang tekad ingin sekolahnya sekeras tembaga atau mereka yang benar-benar putus asa karena tidak mempunyai pekerjaan lain. Hal ini membuktikan bahwa ketiga pemimpi ini memiliki hati yang sekeras tembaga untuk bisa bersekolah untuk mewujudkan mimpi mereka.
Ayah yang pendiam adalah orang tua dari Ikal dan orang tua angkat dari Arai si Simpai Keramat. Begitu sayang beliau pada dua pahlawan keluarganya ini, karena dua anak laki-lakinya inilah yang penuh semangat untuk tetap bersekolah sehingga menaikkan harkat dan martabat keluarganya. Begitu bangganya dia hingga pada hari pengambilan raport kedua anaknya ini, beliau rela mengambil cuti untuk merapikan diri, menggunakan sepeda yang hanya digunakan pada saat-saat tertentu dan baju safari kebanggaannya. Bahkan sang ibu rela tidak tidur untuk merendam daun pandan dan bunga kenanga untuk dipercikkan pada baju sang Ayah pada saat di setrika. Penuh kebanggaan, sang Ayah akan mengayuh sepeda sepanjang 30 kilometer untuk mengambil rapot anaknya itu. Inilah makna pendidikan yang disampaikan oleh penulis. Kemiskinan, keterbatasan tidak menjadi halangan bagi mereka untuk mengenyam bangku pendidikan hingga menggapai mimpi-mimpi mereka bahkan mungkin membayangkannya pun anak-anak seusianya tidak berani. Seperti kata Walt Disney semua mimpi kita akan menjadi nyata jika kita berani untuk mengejarnya.
Pesimistis adalah sikap takabur mendahului nasib, hal tersebut adalah pelajaran penting yang di dapatkan dari siswa SMA sekaligus kuli ngambat yang ia terima dari simpai keramat yang tak lain adalah saudara jauhnya. Dia mengajarkan bahwa di bangku sekolah itulah mereka belajar bagaimana carany hidup tanpa harus mendahului nasib. Tidak ada yang pernah tahu apa yang telah di tuliskan Tuhan dalam ”bukuNya”, tapi yang pasti Tuhan selalu menghargai hambanya yang selalu berusaha dan tidak pernah putus asa. Kehidupan mengajarkan banyak hal, kehidupan memberikan banyak kepahitan, tapi ini tidak akan mampu menghentikan langkah kita untuk berhenti bermimipi dan meraih apa yang kita cita-citakan.
Dalam tetralogi yang ditulis oleh Andrea Hirata ini tokoh yang menarik adalah si Simpai Keramat bernama Arai. Simpai keramat adalah julukan yang diberikan untuk anak keturuanan terakhir dari klannya. Ia diangkat oleh keluarga Ikal yang merupakan sepupu jauhnya. Sebagai seorang Simpai keramat yang telah di tinggal mati oleh seluruh keluarganya, tidak lantas membuat hidupnya pun mati. Bahkan Arai memiliki hidup yang lebih berwarna dan tidak terduga, ia mempunyai banyak mimpi-mimpi yang ia tanamkan di hatinya.
Seseorang yang mampu melihat keindahan di balik sesuatu, sangat optimis dan selalu melihat suatu peristiwa dari kaca mata yang positif. Arai adalah sosok yang begitu spontan dan jenaka, seolah tak ada sesuatupun di dunia ini yang akan membuatnya sedih dan patah semangat. Kehadirannya seolah menjadi idola baru bagi Ikal. Dia mempunyai daya juang dan integritas yang tinggi untuk mencapai mimpinya yaitu dapat bersekolah di Universitas Sorbonne, Perancis. Semangat Arai patut dicontoh agar kita selalu menjadi pemenang. Arai adalah anak yang istimewa dan berkepribadian terbuka karena pengalaman hidup yang dilaluinya. Selalu ingin tahu tapi juga keras hati, punya jiwa kepemimpinan yang kuat dan kreatif, cerdas dan liat, pemberani, sahabat yang baik, mudah iba, dan penuh tanggung jawab. Daya hidupnya kuat sekuat ibadahnya. Kata-kata yang diucapkan, ”Kita tak’kan pernah mendahului nasib! Kita akan sekolah ke Peranics, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apapun yang terjadi!”, menjadi motivasinya sebagai seorang Pemimpi Sejati.
Andrea adalah seorang yang hebat dalam bercerita, ini dapat terlihat pada caranya menceritakan pribadi Arai dalam setiap perannya. Sebagai orang yang menjadi guru kehidupannya, Andrea sangat mengenal sosok Arai, sehingga dia dapat dengan baik menceritakannya. Pada buku ini Arai adalah tokoh utamanya, dialah yang menjadikan mimpi-mimpi itu terlihat lebih dekat dan nyata. Ketika membaca tiap kata dalam novel ini, kita seolah-olah dibawa masuk ke zamannya menyaksikan tingkah polah si Simpai Keramat ini secara langsung.
Kisah-kisah dalam buku ini mengalir khas Andrea, dikemas dengan pilihan kata yang tak mencoba menggurui sekalipun banyak ditemukan frasa-frasa scientifik. Kandungan-kandungan moral tentang semangat hidup, rasa empati, persahabatan, kesetiakawan, dan tentu saja kekerasan hati dalam mencapai mimpi, begitu kental namun segar dalam setiap kalimat yang menceritakan petualangan Ikal, Arai dan Jimbron. Dalam novelnya ini Andra banyak menggunakan fungsi analogi, ini dapat terlihat ketika dia menceritakan bayangan matahari seperti lingkarang api (reign of fire). Yaitu cahaya matahari yang diceritakan sebagai semburan ultraviolet menari-nari di atas permukaan laut yang bisu bertapis minyak, jingga serupa kaca-kaca gereja, mengelilingi dermaga yang menjulur ke laut. Fungsi analogi ini selain membuat pembaca agar tidak bosan juga agar mempermudah para pembaca untuk memahami dan membayangkan keadaan yang sebenarnya, sehingga kita seolah-olah dapat merasakan langsung apa yang dicertiakan dalam novel tersebut.
Selain itu, Andrea juga menggunakan fungsi perbandingan dalam novelnya ini. Hal ini dilakukan untuk mepermudah pembaca mengerti dan membayangkan apa yang sedang diceritakan olehnya. Seperti ketika dia menceritakan betapa mengerikannya Pak Mustar si pencetus SMA Bukan Main ini yang dibandingkan dengan kekejaman Alexander Cortez. Dan ketika dia menceritakan bang Zaitun (penyanyi dangdut Orkes) dengan radio, karena sikapnya humoris dan senang sekali berbicara.
Sang Pemimpi hadir dengan kisah-kisah sederhana. Namun dari kesederhanaan inilah pembaca akan disadarkan bahwa kemiskinan dan berbagai hambatan yang membelit cita-cita seseorang bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Selain itu Melalui rangkaian kisah-kisah dalam buku ini baik yang filosofis, menyentuh bahkan menggelikan akan terlihat secara jelas betapa dashyatnya tenaga mimpi dari tokoh-tokohnya sehingga membawa mereka untuk terus berjuang menaklukkan berbagai rintangan- yang mereka hadapi untuk mewujudkan mimpi mereka. Andera sangat pintar mendeskripsikan setiap kejadian dan tokoh yang ada dengan menggunkan diksi-diksi dan metafora yang menakjubkan. Dia mampu menceritakan secara detail setiap kejadian dengan sudut pandang lain yang mungkin tidak akan terfikir dan terlihat oleh orang lain. Setiap kata yang digunakan terlihat sangat hati-hati namun mudah untuk dicerna. Banyak kejutan-kejutan yang disajikan, perasaan pembaca seolah dipermainkan dalam setiap kata yang dibaca. Andrea mampu menyusun mozaik-mozaik yang ia lalui sebagai sebuah novel yang rinci dan indah dengan beberapa sub bab-sub bab.
Andrea memang pintar memotivasi dan menginspirasi orang lain untuk memiliki mimpi. Ia kupas habis-habisan bagaimana mimpi, dapat menjadi satu-satunya pegangan untuk bertahan. Sepertinya ia ingin berpesan bahwa seberat apapun menjalani hidup, sesukar apapun kenyataan yang dihadapi, sebesar apa pun rasa kehilangan yang terjadi, satu-satunya yang tidak boleh hilang adalah mimpi. Dengan gaya ceritanya yang sangat dalam dan inspiratif, dapat membawa perasaan kita terbawa jauh ke cerita yang sesungguhnya. Menceritkan kisah dari segala sisi ilmiah kehidupan membuat kita lebih mudah memahami setiap kejadian. Inner Life, inilah kata-kata yang pantas digunakan untuk menggambarkan bagaimana novel ini menyedot seluruh akal, perasaan dan hidup kita ke dalam dunia yang di lalui oleh sang penulis ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar