sang pemimpi

Selasa, 24 Agustus 2010

Eksklusi sosial


Tereksklusi Dari Tata Kota:

Hidup Di Kandang Kambing Akibat Kemiskinan[1]

Oleh:

Novika Sari

4815072306[2]

A. Pendahuluan

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk yang tinggi di dunia. Memiliki predikat sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia berusaha melakukan banyak perubahan untuk pembangunan negerinya di segala bidang, baik ekonomi, politik dan budaya. Pembangunan di kota-kota besar di Indonesia tidak terlepas dari penataan kota. Hal ini diharapkan sebagai brand image dan simbolik kota dan salah satunya sekarang adalah sebagai ajang memperebutkan dana bantuan dari Worl Bank. Tapi sayangnya pembangunan yang dilakukan pemerintah kurang memperhatikan kehidupan masyarakat miskin. Mulai dari pembangunannya yang merugikan dan hasil dari pembangunan yang tidak dapat dinikmati oleh mayoritas penduduk Indoensia ini.

Pembangunan-pembangunan yang dilakukan seringkali merugikan masyarakat miskin yang ada di daerah tersebut. Karena seringkali untuk membangun sesuatu kita harus merusak yang lain dan lupa untuk memberikan konsekuensi yang seimbang dari apa yang telah dilakukan. Salah satunya adalah yang dialami oleh Ibu Ida, seorang nenek yang tercatat sebagai warga Kampung Sewan Bedeng, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari. Ibu Ida merupakan salah satu korban penggusuran yang di lakukan oleh pemerintah kota Tangerang. Dia digusur karena tinggal di bantaran Sungai Cisadane. Ironisnya, nenek tua ini sekarang harus hidup di kandang kambing milik tetangganya dan tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Makalah ini dibuat untuk melihat bagaimana ekslusi sosial terjadi pada masyarakat miskin, khususnya Ibu Ida sebagai salah satu anggota dari mayoritas penduduk Indonesia, yaitu masyarakat miskin. Kemana dan untuk siapakah pembangunan dilakukan jika bukan untuk seluruh masyarakat Indonesia, sayangnya ada kesenjangan anatara harapan dan kenyataan di sini. Saya berusaha melihat ekslusi sosial yang terjadi pada Ibu Ida sebagai salah satu masyarakat miskin yang menjadi korban dari pembangunan tata kota. Makalah ini dibuat berdasarkan studi literatur dan analisis terhadap kasus yang di dapat dari sebuah artikel dengan sumber yang dapat dipercaya.

B. Kasus

Kesulitan Hidup

Ibu Ida adalah Ibu tiga anak yang sudah berusia lanjut. Ibu Ida tercatat sebagai warga Kampung Sewan Bedeng, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari. Walaupun bukan merupakan warga asli di daerah tersebut, namun dia sudah hidup di sana sejak tahun 1975, yang menurutnya tempat tersebut masih berupa hutan. Sebelumnya Ibu Ida tinggal di rumah gubuk di daerah yang akan di jadikan kawasan hijau sampai akhirnya dia harus tinggal di sebuah kandang kambing. Dia terpaksa tinggal di kandang kambing semenjak terjadi penggusuran yang dilakukan oleh Sat Pol PP kota Tangerang.

Sebagai seorang manusia tidak selayaknya Ibu Ida tinggal di Kandang Kambing. Dapat kita bayangkan seberapa besar kandang kambing dan fasilitas apa saja yang ada di sana. Sebaik apapun kandang kambing yang dibuat untuk kambing tetap saja tidak layak digunakan sebagai tempat tinggal bagi manusia. Selain bangunan yang sangat tidak layak, kandang kambing yang ditinggali oleh Ibu Ida juga memiliki bau tidak sedap, bahkan tidak jarang dia harus terinjak-injak oleh kambing yang tinggal seatap dengannya. Sebagai bagian dari masyarakat miskin yang tersingkirkan dari pembangunan, Ibu Ida tidak mempunyai pilihan lain selain tinggal di kandang kambing milik tetangganya itu. Sehari-hari Maida berteduh dan istirahat di kandang kambing. Rumah yang dulu dihuninya selama 20 tahun kini rata dengan tanah. Setiap malam nenek berbagi gubuk dengan enam ekor kambing.

Kesulitan Dalam Masyarakat

Pemerintahan kota Tangerang tengah membangun kotanya. Pembangunan di bidang ekonomi, politik dan perbaikan tata kota sedang digalakkan. Salah satunya adalah perbaikan dan pembangunan ruang terbuka hijau. Ruang terbuka hijau atau yang lebih dikenal dengan RTH ini diperuntukkan sebagai sarana umum bagi penduduk kota Tangerang, selain sebagai salah satu penunjang program penghijauan melihat banyaknya polusi yang memerlukan solusi konkret. Secara harfiah, tujuan pembangunan ini sangat baik, namun sayang pada kenyataannya hal tersebut merugikan sebagian penduduk kota Tangerang sendiri, salah satunya adalah Ibu Ida.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Ibu Ida adalah salah satu pemilik rumah bilik di kampung Sewan Bedeng yang menjadi korban penggusuran oleh Sat Pol PP sebagai dampak dari pembangunan RTH. Ruang Terbuka Hijau adalah salah satu program pemerintahan kota Tangerang. Jika kita lihat, sasaran pembangunan adalah diperuntukkan bagi masyarakat daerah tersebut. Ibu Ida adalah warga masyarakat kota Tangerang, walaupun dia bukanlah penduduk asli daerah tersebut. Tetapi sayang, Ibu Ida bukan merupakan salah satu sasaran pembangunan bagi pemerintah, melainkan korban dari pembangunan tersebut.

Ibu Ida memiliki kesulitan dalam mengakses fasilitas yang seharusnya dapat dinikmati oleh setiap anggota masyarakat, salah satunya adalah tempat tinggal yang layak. Kandang kambing bukanlah tempat tinggal yang layak bagi manusia. Sebagus apapun kandang kambing yang dibangun tidak akan pernah layak di gunakan sebagai tempat tinggal bagi manusia sebagai anggota masyarakat. Jika tempat tinggal yang sebelumnya di tinggali oleh Ibu Ida sudah masuk ke dalam perumahan kumuh yang kurang layak ditinggali, maka ukuran layak itu akan semakin berkurang ketika dia harus tinggal di kandang kambing.

Ironi memang melihat realitas di masyarakat kita, melihat Indoensia telah lama merdeka. Dan di tengah gencar-gencarnya pemerintah untuk pembangunan negeri ini. Sungguh kurang manusiawi, seperti apa yang disampaikan oleh Budiman salah satu Komisi II DPR tentang fenomena yang dialami oleh Ibu Ida ini. Yang lebih menyedihkan lagi, camat daerah tersebut sama sekali tidak mengetahui keberadaan warganya tersebut, dengan dalih bahwa tidak ada laporan dari pihak kelurahan. Bahkan aparat pemerintah sendiri sebagai aktor dalam pembangunan negeri ini tidak peduli dan kurang respon terhadap nasib warganya.

Penjelasan Sosiologis

A. Konsep Sosiologi Pembangunan

Kota Tangerang merupakan kota metropolitan yang secara geografis berbatasan langsung dengan wilayah DKI Jakarta sebagai Ibu Kota Negara. Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 13 Tahun 1976 tentang Pengembangan Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi) Kota Tangerang menjadi salah satu daerah penyangga dan daerah limpahan berbagai kegiatan ekonomi dari wilayah DKI Jakarta. Kota ini tengah melakukan perbaikan dengan pembangunan daerahnya. Salah satu pembangunan yang berbasis lingkungan adalah pembuatan kawasan hijau.

Ada beberapa titik pembangunan kawasan hijau di kota Tangerang yang dianggap penting. Salah satunya adalah di daerah Cisadane. Sayangnya pemerintah kurang sensitif terhadap dampak langsung yang diberikan oleh pembangunan ini terhadap masyarakat yang berada di daerah tersebut. Rencana pembuatan Kawasan Hijau di Cisadane diwujudkan dengan meratakan sepuluh hektare area. Termasuk Kampung Sewan Bedeng, Mekarsari, Neglasari, Tangerang. Ratusan orang digusur pemerintah demi membangun kawasan hijau ini. Namun, masyarakat yang menjadi korban penggusuran tak mendapat ganti rugi sepeser pun. Salah satunya adalah Ibu Ida, seorang nenek tua yang pada akhirnya terpaksa harus tinggal di kandang kambing milik salah seorang warga yang tidak menjadi korban penggusuran.

Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah kota Tangerang sebagai salah satu kota berkembang di Negara Indonesia yang juga termasuk negara yang sedang berkembang, seringkali memberikan dampak negatif kepada sebagian besar masyarakat miskin. Pembangunan seolah-olah semakin memiskinkan masyarakat miskin.

Jika melihat konsep pembangunan yang disampaikan oleh Siagian tentang pembangunan sebagai suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation building)[3], maka akan berbanding terbalik dari apa yang dirasakan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Pembangunan yang dilakukan seharusnya benar-benar memperhatikan kesejahteraan dan konsekuensi bagi masyarakatnya. Tidak hanya memikirkan pembangunan dan kemajuan fisik semata, tetapi memperhatikan masyarakatnya sebagai sasaran dari pembangunan.

Salah satu pandangan sosiologis yang dapat digunakan untuk melihat kasus di atas adalah teori dependensi. Teori Dependensi lebih menitik beratkan pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan negara Dunia Ketiga. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa teori dependensi mewakili “suara negara-negara pinggiran” untuk menantang hegemoni ekonomi, politik, budaya dan intelektual dari negara maju. Munculnya teori dependensi lebih merupakan kritik terhadap arus pemikiran utama persoalan pembangunan yang didominasi oleh teori modernisasi. Teori ini mencermati hubungan dan keterkaitan negara Dunia Ketiga dengan negara sentral di Barat sebagai hubungan yang tak berimbang dan karenanya hanya menghasilkan akibat yang akan merugikan Dunia Ketiga. Sedangkan menurut teori moderniasasi sendiri, apa yang dialami oleh masyarakat Indoensia, khususnya masyarakat kota Tangerang yang menjadi korban penggusuran, terutama Ibu Ida merupakan suatu bentuk “keterbelakangan”.

Teori modernisasi melihat keterbelakangan (underdevelopment) sebagai suatu bentuk kemiskinan dimana anggota masyarakatnya tidak mampu mengakses pendidikan dan kesehatan yang baik, teknologi sederhana, tidak punya tabungan dan tradisi yang menghambat. Hal inilah yang secara khusus dialami oleh Ibu Ida sebagai salah satu masyarakat miskin Indonesia, khususnya kota Tangerang yang menjadi korban dari pembangunan. Ibu Ida merupakan salah satu masyrakat terbelakang yang tidak dapat mengakses kesehatan yang baik dan hidup sederhana atau lebih cocok jika dikatakan hidup memprihatinkan disebuah kandang kambing.

B. Analisis Eksklusi Sosial

Baru-baru penggusuran terhadap perumahan rakyat dilakukan oleh Pemerintahan Daerah Tangerang. Ini merupakan salah satu dampak dari program yang disodorkan oleh World Bank tentang tata kota yaitu “ city without slumps”, disamping pemotongan subsidi publik seperti BBM, pendidikan, dan masih banyak lagi guna mendapatkan pinjaman hutang luar negeri. Program ini segera direspon oleh pemerintahan-pemerintahan daerah di Indonesia, salah satunya adalah kota Tangerang.

Program World Bank ini dipakai oleh Pemda Tangerang guna menghilangkan perkampungan yang menurut mereka dari sanalah segala macam bentuk kriminalitas dan ketidaknyamanan itu timbul. Kemiskinan yang dialami penduduk kota ini telah mengakibatkan dicabutnya hak mereka untuk bertempat tinggal di kota ini oleh negara dimana dalam kondisinya agar mendapat pinjaman diri negara luar, yang padahal belum tentu pinjaman yang mengatasnamakan rakyat itu jatuh ketangan rakyat. Salah satunya adalah apa yang dialami oleh Ibu Ida.

Produk kebijakan yang dihasilkan oleh pemerintah, ketika tidak sensitif terhadap kebutuhan peningkatan kesejahteraan rakyat yang diakibatkan oleh penyusunan kebijakan yang tidak partisipatif atau didominasi keputusan politik didalamnya maka akan mengakibatkan terjadinya eksklusi sosial.

Seperti yang dikatakan oleh Somerville yang melihat ada dua makna eksklusi sosial. Yang pertama berkaitan dengan terputus atau tereksklusi dari pasar tenaga kerja di negara-negara kapitalis maju. Ketika menjalani proses restrukturisasi ekonomi di negara-negara kapitalis maju mengakibatkan sebagian populasi kehilangan pekerjaan untuk jangka waktu lama. Makna kedua, berbeda dengan yang sebelumnya, berkaitan dengan penolakan atau penyangkalan status sosial kewarganegaraan kelompok tertentu. Argumen umumnya terfokus pada proses stigmatisasi dan pembatasan atau penindasan melalui peraturan dan penegakan hukum, dan bentuk-bentuk diskriminasi institusi. Sedangkan menurut Pierson, ada lima kekuatan yang mendorong terjadinya proses eksklusi sosial yaitu (1) kemiskinan dan penghasilan rendah; (2) tidak ada akses ke pasar kerja; (3) lemahnya atau tidak ada dukungan sosial dan jaringan sosial; (4) efek dari kawasan dan lingkungan sekitar; (5) terputus dari layanan. Kelima komponen mengeksklusi individu atau kelompok orang.

Jika melihat dari teori yang disampaikan oleh Somerville maka Ibu Ida merupakan korban dari argumennya yang kedua, yaitu ketika Ibu Ida terstigmatisasi dan pembatasan atau penindasan melalui peraturan dan penegakan hukum dan bentuk-bentuk diskriminasi institusi. Dengan dalih menegakkan peraturan yang merupakan program pembangunan kota, Ibu Ida harus digusur tanpa mendapatkan bantuan ataupun ganti rugi dari pemerintah sehingga dia harus tinggal di sebuah kandang kambing yang tidak layak. Sedangkan jika menurut Pierson maka kasus Ibu Ida ini termasuk kompleks. Karena Ibu Ida merupakan anggota masyarakat dengan penghasilan sangat rendah yang tidak dapat mengakses pasar kerja, yaitu hanya Rp8000,- per hari dengan menjual sedotan bekas. Keadaan yang dialami oleh Ibu Ida sekarang merupakan efek dari kawasan tempat tinggalnya yang dijadikan kawasan hijau oleh pemerintah sehingga dia harus merelakan tempat tinggalnya digusur tanpa ada bantuan dari pemerintah dan lingkungan sekitarnya, kecuali seorang tetangga yang rela membagi kandang kambingnya untuk ditinggali oleh Ibu Ida.

Solusi

Melihat kasus yang dialami oleh Ibu Ida, solusi nyata yang harus dilakukan sangatlah tidak sulit. Pemerintah sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas masyarakatnya seharusnya lebih responsif dan sensitif terhadap kehidupan masyarakatnya. Perlu ada kajian yang lebih dalam dan responsif terhadap masyarakat untuk setiap program pemerintah, tidak semata-mata mementingkan keuntungan sebagian orang saja. Perhitungan yang ketat juga harus dilakukan untuk menghitung untung rugi yang dialami oleh masyarakat akibat korban pembangunan. Untuk ”pemusnahan” tempat tinggal maupun pekerjaan masyarakat yang mengatasnakaman pembangunan, seharusnya pemerintah sudah siap memberikan ganti rugi yang sepadan. Dalam hal ini masyarakat maupun lembaga-lembaga kemasyarakatan yang mempunyai visi dan misi membela rakyat terutama rakyat miskin seharusnya lebih responsif dan lebih cepat tanggap untuk membela dan mengoreksi setiap program pemerintah yang dianggap cacat karena merugikan sebagian masyarakat.

Daftar Pustaka

Kusnardi, SH., Prof. Dr. Bintan, MA, Ilmu Negara, Penerbit: Gaya Media Pratama Jakarta 1993.

Soeroso, Pengantar Ilmu Hukum, Penerbit: Sinar Grafika Bandung 1992.

Ritzer Douglas, Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Postmodern, Penerbit: Kreasi Wacana Yogyakarta 2007.

Soekanto Soejono, Sosiologi Suatu Pengantar, Penerbit: rajawali Pers Jakarta 2007.

Sumber Lain

http://megapolitan.kompas.com/read/2010/05/18/10213327/Sehari.hari.Ida.Tidur.di.Kandang.Kambing

http://profsyamsiah.wordpress.com


[1] Sebabagi Pemenuhan Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Sosiologi Pembangunan

[2] Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta angkatan 2007

[3] http://profsyamsiah.wordpress.com

Senin, 09 Agustus 2010

dolanan keliling jawa

Benteng Vredeburg Yogjakarta





Kamis, 03 Juni 2010

sang pemimpi

Membidik Kata dalam Cerita:
Merasuki Sudut Kehidupan Sang Pemimpi


Andrea Hirata, mengguncang dunia sastra indonesia pada abad ke-20 dengan tetralogi novelnya. Novel-novel yang berisi pengalaman hidup yang inspiratif ini salah satunya berjudul Sang Pemimpi. Dalam novel keduanya, pria asli Belitong ini memaparkan bagaimana kekuatan mimpi dan pengorbanan menjadi cambuk bagi kehidupan untuk tidak pernah menyerah dan pasrah kepada keadaan. Andrea mengupas dunia pendidkan dengan sangat tajam dan indah, ia membuka realitas yang kejam sekaligus manis tentang pendidikan dalam sebuah novel dengan halaman kurang dari 300 lembar ini. Dapat kita lihat bagaimana perjuangan tiga anak miskin dari sudut pedalaman bangsa, berjuang melawan kemiskinan mereka untuk mendapatkan pendidikan yang menjadi barang langka di daerahnya. Dengan berbekal mimpi yang mereka punya, Ikal, Arai dan Jimbron berusaha sekuat tenaga agar dapat bersekolah.

Tiga orang anak dari kampung Melayu yang bernama Ikal, Arai dan Jimbron bermimpi melanjutkan sekolah ke Perancis, menjelajahi Eropa bahkan ke Afrika. Walau bagai pungguk merindukan bulan, mereka tidak peduli, mereka memiliki tekad baja untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Hidup di daerah terpencil, kemiskinan, kepahitan hidup, bukanlah halangan bagi mereka untuk bermimpi. Mereka tidak pernah menyerah pada nasin dan keadaan, bagi mereka mimpi adalah satu-satunya energi yang mereka punya untuk melanjutkan hidup dengan penuh semangat. Dan menggapai apa yang mereka cita-citakan.
Ikal, Arai dan Jimbron memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi, mereka bahu membahu mewujudkan mimpi mereka. Saat itu PN Timah Belitung sedang dalam keadaan terancam kolaps, gelombang PHK besar-besaran membuat banyak anak-anak tidak bisa meneruskan sekolah, karena orang tuanya tidak sanggup untuk membiayai. Kebanyakan anak-anak bekerja membantu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Tapi ketiga pemimpi itu memiliki tekad yang kuat untuk melanjutkan sekolah begitu tamat dari SMP. Dan satu-satunya SMA berada di kampung Magai yang berjarak 30 kilometer dari kampung mereka. Oleh karena itu mereka tinggal bersama-sama dalam sebuah los kontrakan, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka bekerja mulai dari penyelam di padang golf, office boy di kantor pemerintahan hingga akhirnya bekerja sebagai kuli ngambat. Kuli tambat adalah pekerjaan yang paling kasar yang hanya akan digeluti oleh mereka yang tekad ingin sekolahnya sekeras tembaga atau mereka yang benar-benar putus asa karena tidak mempunyai pekerjaan lain. Hal ini membuktikan bahwa ketiga pemimpi ini memiliki hati yang sekeras tembaga untuk bisa bersekolah untuk mewujudkan mimpi mereka.

Ayah yang pendiam adalah orang tua dari Ikal dan orang tua angkat dari Arai si Simpai Keramat. Begitu sayang beliau pada dua pahlawan keluarganya ini, karena dua anak laki-lakinya inilah yang penuh semangat untuk tetap bersekolah sehingga menaikkan harkat dan martabat keluarganya. Begitu bangganya dia hingga pada hari pengambilan raport kedua anaknya ini, beliau rela mengambil cuti untuk merapikan diri, menggunakan sepeda yang hanya digunakan pada saat-saat tertentu dan baju safari kebanggaannya. Bahkan sang ibu rela tidak tidur untuk merendam daun pandan dan bunga kenanga untuk dipercikkan pada baju sang Ayah pada saat di setrika. Penuh kebanggaan, sang Ayah akan mengayuh sepeda sepanjang 30 kilometer untuk mengambil rapot anaknya itu. Inilah makna pendidikan yang disampaikan oleh penulis. Kemiskinan, keterbatasan tidak menjadi halangan bagi mereka untuk mengenyam bangku pendidikan hingga menggapai mimpi-mimpi mereka bahkan mungkin membayangkannya pun anak-anak seusianya tidak berani. Seperti kata Walt Disney semua mimpi kita akan menjadi nyata jika kita berani untuk mengejarnya.

Pesimistis adalah sikap takabur mendahului nasib, hal tersebut adalah pelajaran penting yang di dapatkan dari siswa SMA sekaligus kuli ngambat yang ia terima dari simpai keramat yang tak lain adalah saudara jauhnya. Dia mengajarkan bahwa di bangku sekolah itulah mereka belajar bagaimana carany hidup tanpa harus mendahului nasib. Tidak ada yang pernah tahu apa yang telah di tuliskan Tuhan dalam ”bukuNya”, tapi yang pasti Tuhan selalu menghargai hambanya yang selalu berusaha dan tidak pernah putus asa. Kehidupan mengajarkan banyak hal, kehidupan memberikan banyak kepahitan, tapi ini tidak akan mampu menghentikan langkah kita untuk berhenti bermimipi dan meraih apa yang kita cita-citakan.

Dalam tetralogi yang ditulis oleh Andrea Hirata ini tokoh yang menarik adalah si Simpai Keramat bernama Arai. Simpai keramat adalah julukan yang diberikan untuk anak keturuanan terakhir dari klannya. Ia diangkat oleh keluarga Ikal yang merupakan sepupu jauhnya. Sebagai seorang Simpai keramat yang telah di tinggal mati oleh seluruh keluarganya, tidak lantas membuat hidupnya pun mati. Bahkan Arai memiliki hidup yang lebih berwarna dan tidak terduga, ia mempunyai banyak mimpi-mimpi yang ia tanamkan di hatinya.
Seseorang yang mampu melihat keindahan di balik sesuatu, sangat optimis dan selalu melihat suatu peristiwa dari kaca mata yang positif. Arai adalah sosok yang begitu spontan dan jenaka, seolah tak ada sesuatupun di dunia ini yang akan membuatnya sedih dan patah semangat. Kehadirannya seolah menjadi idola baru bagi Ikal. Dia mempunyai daya juang dan integritas yang tinggi untuk mencapai mimpinya yaitu dapat bersekolah di Universitas Sorbonne, Perancis. Semangat Arai patut dicontoh agar kita selalu menjadi pemenang. Arai adalah anak yang istimewa dan berkepribadian terbuka karena pengalaman hidup yang dilaluinya. Selalu ingin tahu tapi juga keras hati, punya jiwa kepemimpinan yang kuat dan kreatif, cerdas dan liat, pemberani, sahabat yang baik, mudah iba, dan penuh tanggung jawab. Daya hidupnya kuat sekuat ibadahnya. Kata-kata yang diucapkan, ”Kita tak’kan pernah mendahului nasib! Kita akan sekolah ke Peranics, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apapun yang terjadi!”, menjadi motivasinya sebagai seorang Pemimpi Sejati.
Andrea adalah seorang yang hebat dalam bercerita, ini dapat terlihat pada caranya menceritakan pribadi Arai dalam setiap perannya. Sebagai orang yang menjadi guru kehidupannya, Andrea sangat mengenal sosok Arai, sehingga dia dapat dengan baik menceritakannya. Pada buku ini Arai adalah tokoh utamanya, dialah yang menjadikan mimpi-mimpi itu terlihat lebih dekat dan nyata. Ketika membaca tiap kata dalam novel ini, kita seolah-olah dibawa masuk ke zamannya menyaksikan tingkah polah si Simpai Keramat ini secara langsung.
Kisah-kisah dalam buku ini mengalir khas Andrea, dikemas dengan pilihan kata yang tak mencoba menggurui sekalipun banyak ditemukan frasa-frasa scientifik. Kandungan-kandungan moral tentang semangat hidup, rasa empati, persahabatan, kesetiakawan, dan tentu saja kekerasan hati dalam mencapai mimpi, begitu kental namun segar dalam setiap kalimat yang menceritakan petualangan Ikal, Arai dan Jimbron. Dalam novelnya ini Andra banyak menggunakan fungsi analogi, ini dapat terlihat ketika dia menceritakan bayangan matahari seperti lingkarang api (reign of fire). Yaitu cahaya matahari yang diceritakan sebagai semburan ultraviolet menari-nari di atas permukaan laut yang bisu bertapis minyak, jingga serupa kaca-kaca gereja, mengelilingi dermaga yang menjulur ke laut. Fungsi analogi ini selain membuat pembaca agar tidak bosan juga agar mempermudah para pembaca untuk memahami dan membayangkan keadaan yang sebenarnya, sehingga kita seolah-olah dapat merasakan langsung apa yang dicertiakan dalam novel tersebut.
Selain itu, Andrea juga menggunakan fungsi perbandingan dalam novelnya ini. Hal ini dilakukan untuk mepermudah pembaca mengerti dan membayangkan apa yang sedang diceritakan olehnya. Seperti ketika dia menceritakan betapa mengerikannya Pak Mustar si pencetus SMA Bukan Main ini yang dibandingkan dengan kekejaman Alexander Cortez. Dan ketika dia menceritakan bang Zaitun (penyanyi dangdut Orkes) dengan radio, karena sikapnya humoris dan senang sekali berbicara.
Sang Pemimpi hadir dengan kisah-kisah sederhana. Namun dari kesederhanaan inilah pembaca akan disadarkan bahwa kemiskinan dan berbagai hambatan yang membelit cita-cita seseorang bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Selain itu Melalui rangkaian kisah-kisah dalam buku ini baik yang filosofis, menyentuh bahkan menggelikan akan terlihat secara jelas betapa dashyatnya tenaga mimpi dari tokoh-tokohnya sehingga membawa mereka untuk terus berjuang menaklukkan berbagai rintangan- yang mereka hadapi untuk mewujudkan mimpi mereka. Andera sangat pintar mendeskripsikan setiap kejadian dan tokoh yang ada dengan menggunkan diksi-diksi dan metafora yang menakjubkan. Dia mampu menceritakan secara detail setiap kejadian dengan sudut pandang lain yang mungkin tidak akan terfikir dan terlihat oleh orang lain. Setiap kata yang digunakan terlihat sangat hati-hati namun mudah untuk dicerna. Banyak kejutan-kejutan yang disajikan, perasaan pembaca seolah dipermainkan dalam setiap kata yang dibaca. Andrea mampu menyusun mozaik-mozaik yang ia lalui sebagai sebuah novel yang rinci dan indah dengan beberapa sub bab-sub bab.
Andrea memang pintar memotivasi dan menginspirasi orang lain untuk memiliki mimpi. Ia kupas habis-habisan bagaimana mimpi, dapat menjadi satu-satunya pegangan untuk bertahan. Sepertinya ia ingin berpesan bahwa seberat apapun menjalani hidup, sesukar apapun kenyataan yang dihadapi, sebesar apa pun rasa kehilangan yang terjadi, satu-satunya yang tidak boleh hilang adalah mimpi. Dengan gaya ceritanya yang sangat dalam dan inspiratif, dapat membawa perasaan kita terbawa jauh ke cerita yang sesungguhnya. Menceritkan kisah dari segala sisi ilmiah kehidupan membuat kita lebih mudah memahami setiap kejadian. Inner Life, inilah kata-kata yang pantas digunakan untuk menggambarkan bagaimana novel ini menyedot seluruh akal, perasaan dan hidup kita ke dalam dunia yang di lalui oleh sang penulis ini.